Senin, 04 Mei 2015

IMPLEMENTASI KHITTAH PENDIDIKAN PONDOK PESANTREN TERPADU AL-ISTIQOMAH

Oleh : Usep Wahidin (Uswah) Muslim

Menurut Yayasan Istiqomah Nusantara Sukabumi atau Pondok Pesantren Terpadu Al-Istiqomah untuk menciptakan suatu Pembelajaran yang Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAKEM), ada 4 khittah (Pilar) yang menjadi acuan pendidikan bagi lembaga pendidikan tersebut, yaitu:

1. Kedalaman Spritual
2. Ketajaman Nalar
3. Mental Swadaya
4. Peka Terhadap Problematika Sosial

Memaknai ke-empat-nya adalah:

Pertama, Kedalaman Spritual (disingkat KS) adalah (bahas Inggris: spiritual quotient) adalah kecerdasan jiwa yang membantu seseorang untuk mengembangkan dirinya secara utuh melalui penciptaan kemungkinan untuk menerapkan nilai-nilai ajaran agama Islam.
SQ merupakan fasilitas yang membantu siswa-siswi untuk mengatasi persoalan dan berdamai dengan persoalannya itu. Ciri utama dari KS ini ditunjukkan dengan kesadaran siswa-siswi untuk menggunakan pengalamannya sebagai bentuk penerapan nilai dan makna ajaran islam.
Kecerdasan Spritual yang berkembang dengan baik akan ditandai dengan kemampuan siswa-siswi untuk bersikap jujur, fleksibel dan mudah menyesuaikan diri dengan Lingkungan, memiliki tingkat kesadaran yang tinggi, mampu menghadapi penderitaan dan rasa sakit, mampu mengambil pelajaran yang berharga dari suatu kegagalan, mampu mewujudkan hidup sesuai dengan visi dan misi, mampu melihat keterkaitan antara berbagai hal, mandiri, serta pada akhirnya membuat siswa-siswi mengerti akan makna hidupnya.

Kedua, Ketajaman Nalar adalah proses belajar tidak sekedar menalar hapalan pengetahuan dan teks pada kaidah ilmu dalam pembelajaran, juga mengetahui apa yang bermakna dari simbol dan ciri-ciri kehidupan dan sekaligus mengetahui apa yang tidak bermanfaat bagi kehidupan. Tenaga kependidikan (Guru, pelatih, instruktur, dll) harus menjadi inspirator dalam pengembangan, perencanaan, dan pembinaan pendidikan dan pembelajaran. Di samping itu guru dituntut untuk dapat berperan ganda sebagai kawan berdialog bagi siswanya dalam rangka mengembangkan penguasaan pengetahuan siswa.

Ketiga, Mental Swadaya adalah belajar untuk berkarya dan beramal. Maksud berkarya disini, yaitu: setelah peserta didik belajar menalar dengan belajar mencari hal-hal yang ingin diketahui pada makna hidup dengan diiringi dengan potensi yang dimilikinya, ia harus bisa menghasilkan suatu karya dari potensi yang dimilikinya secara mandiri. Jadi belajar berkarya merupakan suatu proses untuk mengembangkan diri individu,
Didalam sebuah pembelajaran ada prinsip aktivitas (kegiatan) yang harus dicapai, Diantaranya :
Hard Skills            : Keterampilan yang menuntut fisik
Soft Skills             : Keterampilan yang menuntut Intelektual
Life Skills              : Keterampilan yang menuntut kemampuan hidup
Proses belajar berkarya mengacu pada perubahan dalam ranah kognitif, peningkatan kompetensi pemilihan  dan penerimaan secara sadar terhadap nilai, sikap, penghargaan, perasaan serta kemauan untuk berbuat atau merespon suatu stimulus yang benar-benar mandiri. Pendidikan membekali siswa-siswi untuk tidak sekedar mengetahui, tetapi lebih jauh untuk terampil berbuat atau mengerjakan sesuatu sehingga menghasilkan sesuatu yang bermakna bagi kehidupan.
Sedangkan beramal adalah belajar untuk menjadi pribadi yang seutuhnya. Dalam proses ini siswa-siswi diharapkan dapat belajar menjadi pribadi yang kreatif, berwawasan, memiliki pengetahuan yang utuh serta mampu menguasai ilmu yang di tempuhya selama proses pendidikan dilakasanakan. Pengusaaan pengetahuan dan keterampilan dalam bentuk beramal merupakan proses menjadi insan kamil. Menjadi insan kamil dalam hal ini dapat diartikan sebagai proses pemahaman kebutuhan dan jati diri. Belajar beramal sesuai norma dan kaidah yang berlaku dalam islam, belajar menjadi pribadi yang berhasil sesungguhnya merupakan proses pencapaian aktualisasi diri. Selain itu, pendidikan beramal juga harus bermuara pada bagaimana peserta didik menjadi manusia yangsempurna dihadapan Allah SWT.

Keempat, Peka Terhadap Problematika Sosial adalah mengantarkan siswa-siswi dalam memiliki kemampuan membaca tanda-tanda persoalan sosial masyarakt baik lokal, nasional dan gelobal yang terus berkembang dengan memberikan sulusi alternatif secara sederhan baik pada wilayah wacana (lisan) dan tindakan dengan ruh dan pondasi makna ketiga khitah diatas tadi. Proses pembelajaran ini, menjadikan peserta anak didik yang terus menerus memiliki gegelisahan diri apabila melihat di upuk mata melihat gejala masalah sosial yang ada (tanha ‘anil fahsya iwal munkar).

Catatan: link tulisan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar