Oleh : Usep Wahidin (Uswah) Muslim
Menurut Yayasan Istiqomah Nusantara Sukabumi atau Pondok Pesantren
Terpadu Al-Istiqomah untuk menciptakan suatu Pembelajaran yang Aktif,
Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAKEM), ada 4 khittah (Pilar) yang
menjadi acuan pendidikan bagi lembaga pendidikan tersebut, yaitu:
1. Kedalaman Spritual
2. Ketajaman Nalar
3. Mental Swadaya
4. Peka Terhadap Problematika Sosial
Memaknai ke-empat-nya adalah:
Pertama, Kedalaman Spritual (disingkat KS) adalah (bahas Inggris: spiritual quotient)
adalah kecerdasan jiwa yang membantu seseorang untuk mengembangkan
dirinya secara utuh melalui penciptaan kemungkinan untuk menerapkan
nilai-nilai ajaran agama Islam.
SQ merupakan fasilitas yang
membantu siswa-siswi untuk mengatasi persoalan dan berdamai dengan
persoalannya itu. Ciri utama dari KS ini ditunjukkan dengan kesadaran
siswa-siswi untuk menggunakan pengalamannya sebagai bentuk penerapan
nilai dan makna ajaran islam.
Kecerdasan Spritual yang berkembang
dengan baik akan ditandai dengan kemampuan siswa-siswi untuk bersikap
jujur, fleksibel dan mudah menyesuaikan diri dengan Lingkungan, memiliki
tingkat kesadaran yang tinggi, mampu menghadapi penderitaan dan rasa
sakit, mampu mengambil pelajaran yang berharga dari suatu kegagalan,
mampu mewujudkan hidup sesuai dengan visi dan misi, mampu melihat
keterkaitan antara berbagai hal, mandiri, serta pada akhirnya membuat
siswa-siswi mengerti akan makna hidupnya.
Kedua, Ketajaman
Nalar adalah proses belajar tidak sekedar menalar hapalan pengetahuan
dan teks pada kaidah ilmu dalam pembelajaran, juga mengetahui apa yang
bermakna dari simbol dan ciri-ciri kehidupan dan sekaligus mengetahui
apa yang tidak bermanfaat bagi kehidupan. Tenaga kependidikan (Guru,
pelatih, instruktur, dll) harus menjadi inspirator dalam pengembangan,
perencanaan, dan pembinaan pendidikan dan pembelajaran. Di samping itu
guru dituntut untuk dapat berperan ganda sebagai kawan berdialog bagi
siswanya dalam rangka mengembangkan penguasaan pengetahuan siswa.
Ketiga,
Mental Swadaya adalah belajar untuk berkarya dan beramal. Maksud
berkarya disini, yaitu: setelah peserta didik belajar menalar dengan
belajar mencari hal-hal yang ingin diketahui pada makna hidup dengan
diiringi dengan potensi yang dimilikinya, ia harus bisa menghasilkan
suatu karya dari potensi yang dimilikinya secara mandiri. Jadi belajar
berkarya merupakan suatu proses untuk mengembangkan diri individu,
Didalam sebuah pembelajaran ada prinsip aktivitas (kegiatan) yang harus dicapai, Diantaranya :
Hard Skills : Keterampilan yang menuntut fisik
Soft Skills : Keterampilan yang menuntut Intelektual
Life Skills : Keterampilan yang menuntut kemampuan hidup
Proses belajar berkarya
mengacu pada perubahan dalam ranah kognitif, peningkatan kompetensi
pemilihan dan penerimaan secara sadar terhadap nilai, sikap,
penghargaan, perasaan serta kemauan untuk berbuat atau merespon suatu
stimulus yang benar-benar mandiri. Pendidikan membekali siswa-siswi
untuk tidak sekedar mengetahui, tetapi lebih jauh untuk terampil
berbuat atau mengerjakan sesuatu sehingga menghasilkan sesuatu yang
bermakna bagi kehidupan.
Sedangkan beramal adalah belajar untuk
menjadi pribadi yang seutuhnya. Dalam proses ini siswa-siswi diharapkan
dapat belajar menjadi pribadi yang kreatif, berwawasan, memiliki
pengetahuan yang utuh serta mampu menguasai ilmu yang di tempuhya
selama proses pendidikan dilakasanakan. Pengusaaan pengetahuan dan
keterampilan dalam bentuk beramal merupakan proses menjadi insan kamil.
Menjadi insan kamil dalam hal ini dapat diartikan sebagai proses
pemahaman kebutuhan dan jati diri. Belajar beramal sesuai norma dan
kaidah yang berlaku dalam islam, belajar menjadi pribadi yang berhasil
sesungguhnya merupakan proses pencapaian aktualisasi diri. Selain itu,
pendidikan beramal juga harus bermuara pada bagaimana peserta didik
menjadi manusia yangsempurna dihadapan Allah SWT.
Keempat, Peka
Terhadap Problematika Sosial adalah mengantarkan siswa-siswi dalam
memiliki kemampuan membaca tanda-tanda persoalan sosial masyarakt baik
lokal, nasional dan gelobal yang terus berkembang dengan memberikan
sulusi alternatif secara sederhan baik pada wilayah wacana (lisan) dan
tindakan dengan ruh dan pondasi makna ketiga khitah diatas tadi. Proses
pembelajaran ini, menjadikan peserta anak didik yang terus menerus
memiliki gegelisahan diri apabila melihat di upuk mata melihat gejala
masalah sosial yang ada (tanha ‘anil fahsya iwal munkar).
Catatan: link tulisan
Catatan: link tulisan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar